Kamis, 24 Maret 2011

Karena keberanian dan doa menembus pintu gunung Elit


Pergumulan untuk melakukan perjalanan ke dunia yang baru, penuh pertimbangan besar, dunia ini belum diketahui seperti apa kehidupannya, bahasanya, aktivitasnya, dan seluk beluk kehidupan nyata. belum juga di ketahui secara dekat tentang kegiatan sehari-hari. Walaupun demikian keinginan hati yang sangat mendalam merupakan kekuatan “Iman” dan komitmen iman. Saat mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke dunia yang belum diketahui dengan benar, tetapi roh Tuhan mulai bekerja saat itu.
Dan hal inilah yang secara nyata dilakukan oleh rombongan Missionaries Siegfried Zöellner dan Dr.Wim Vriend ketika awal memulai untuk melakukan rencana pelayanan kearah timur dari Grand Valley. Lembah yang ditujuh adalah Lembah Yali (Yali Valley), pergumulan demi pergumulan dilakukan, pengikut sebagai penginjil dan pengantar pun mulai di kumpulkan oleh Missionaris.
Bekal sebagai pegangan juga di siapkan seperti Parang Sabel, Kampak, garam Sauris, Supermi, korek api dan beberapa lembar potongan Pakian untuk di pakai di yali valley, memang berat untuk menuju medan pertempuran, tetapi hal ini merupakan jaminan bahwa telah siap. Hal yang paling penting yang dilakukan adalah doa dan menyiapkan Alkitab dan Nyanyian Rohani sebagai Tongkat Laskar.
Sebuah sejarah dimulai untuk melukiskan bahwa dunia yang tenang dan damai itu perlu memasukan injil Tuhan. Beberapa hari sebelumnya dari udara telah memantau lokasi dimana yang menjadi daerah sasaran perintisan yaitu lembah helug, dari bari hulu sampai ke hilir dan lembah Yahuli dari hulu sampai ke hilir dan juga wilayah landi dan habie. Survey tersebut dilakukan di lembah-lembah kecil dari timur ke barat dan dari utara ke selatan Yali Valley. Survey ini dilakukan dibawah pimpinan kepala MAF D.Steiger, Pilot B. Johanson bersama dengan Pdt. F.J.S. Rumainum, Dr. Deklaine dan wakil dan VEM Dr. W.Vriend dan Pdt. Dr. S.Zöellner. cakrawala telah terbuka taman indah mirip taman Firdaus itu perlu di rintis, rombongan Pdt. S.Zöellner dan Dr. W.Vriend mulai bergerak untuk menuju lembah Yali lewat Kurima, Mugwi, Yogosem Kiroma dan Naik Tanjakan Siam Elit.
Rombongan sangat percaya bahwa Tuhan sedang bersama, sebab roh telah bekerja dan dorongan iman menjadi sebuah kekuatan. John greenlef witlier dalam kata-kata mutiara dapat melukiskan bahwa : “ Dengan teguh sebagai mereka yang berada di tepi laut Syiria mendengar panggilan Allah Bapa” dan saya juga ingin mengatakan bahwa : Dengan iman mereka berjalan menjaring manusia ditengah celah gunung, dibalik gunung, di hulu sungai dan di lembah kecil dibawah tebing terjal, gua-gua kehidupan manusia untuk diselamatkan oleh Allah. Karena perjuangan ini bukan perjuangan yang gampang, dan muda, perjuangan penuh resiko secara manusia yang di lakukan oleh para Pembawa kabar Baik. Kabar keselamatan dan kabar gembira, juga membuka dunia menjadi layak sama di muka bumi.
Sebab berkat Tuhan ada bersama, melaksanakan missi yang kudus, karena itu Tuhan menjamin kehidupan rombongan walaupun terasa sedang masuk didalam mulut singa, didalam perjalanan ini tidak terasa bahwa seorang Yali sedang dalam rombongan dari Yuarima dan hatinya sedang menggebu-menggebu dan bergembira karena orang kulit putih yang disebut-sebut oleh orang-orang Yali sebagai om sedang datang.
Perjuangan keras diatas ini merupakan sebuah hal yang tidak muda, cobaan pun datang silih berganti, ketakutan menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari perjalanan tetapi semua anggota rombongan bertahan karena sebelumnya telah dibekali untuk tetap bertahan. Sebagai dukungan Yakobus 1:12 – mengatakan : berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apa bila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang di janjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi dia.
Dengan jaminan kekuatan iman, hubungan langsung dengan Allah untuk menduniakan misteri kehidupan manusia yang membanggakan diri sebagai penguasa bumi di mata dunia. Dan hal ini dapat di lukiskan menjadi sejarah, karena kebesaran Allah, dunia yang tidak layak menjadi layak, dikenal, dikenang dan diidamkan dan ketika meranjak pada usia perintisan 50 tahun di rayakan sebagai hari ulang Tahun Pekabaran Injil (PI) Yali Velley.
Kemerahan dan kram di kaki
Pada tanggal 20 Maret 1961 satu team dalam rombongan yang terdiri dari Pdt. M. Yoku, Penginjil M. Maban, Sdr. Mabrisauw, Dr. W. H. Vriend dan Pdt. Dr. S. Zollner berjalan kaki dari kampung Yuwareima di lembah Mugwi menuju lembah Yali. Untuk mengantar team ini sampai di wilayah Yali, Team tersebut dipimpin oleh kepala suku Polaimakwe. Kepala suku Polaimakwe bersama dengan masyarakatnya bersedia mengantarkan rombongan tersebut ke daerah Piliyam yang terletak di lembah Sibi. Mulai meletakan kaki pertama dari kaki kering ke tempat basah dan ketika itu seluruh telapak kaki terasa pedih dan sakit. Dan kemudian dapat dirasakan ketika dalam perjalanan yang panajang itu. Betapa sakitnya telapak kaki, terasa menusuk sampai tertusuk sampai di jantung, batu tajam setajam jamur atau sejenis duri babi di permukaan laut pun terasa, tanjakan demi tanjakan juga terlewati, semak duri sekalipun dapat menggores betis terasa kulit dan daging pada kaki terada tercabut tetapi masi terasa pedis dan sakit. Tetap tancap gas hingga di sampai puncak bukit Siam. Terasa sejak sejenak lalu tumit kaki hingga tubuh terasa kram, terlihat tumit dan bagian tubuh lainnnya menjadi putih, becek juga bercampur menutupi kulit pada kaki dan hingga pantat celana menjadi warna-warni. Pergumulan demi pergumulan terus dilakukan, kabut putih dapat menutupi siam hingga matlik dan sebuah lembah kecil tidak ada pepohonan lagi, terasa berada di sebuah kota indah ternyata hutan belantara. Bibir menjadi tebal terasa tidak nafas lagi untuk bertahan hidup di tengah dunia yang sangat mencekam tersebut.
Perjalanan rombongan dalam cuaca yang sangat buruk maka terpaksa team bermalam dua kali diperjalanan pada ketinggian 3500 meter yang mana udara/suhunya sangat dingin. Kemudian pada hari yang kedua rombongan bertemu dengan beberapa ratus orang Yali dalam suatu suasana yang ramah, namun pada saat itu orang Yali menyendiri dan menjadi sangat kuatir. Orang Yali sedang menolong rombongan untuk menuruni jurang Elit yang sangat berbahaya.
Di kaki gunung Elit rombongan bermalam lagi dalam satu rumah darurat dan kemudian pada hari berikutnya mereka tiba di kampung Piliyam. Ditunjukkan suatu tempat kepada rombongan untuk mendirikan kemah, sehingga pada minggu-minggu berikutnya rumah tersebut didirikan dari bahan kayu setempat. Tempat didirikan rumah itu bernama Suwele yang menjadi pos Pekabaran Injil yang pertama sebagai pintu masuk Pekabaran Injil di daerah Yalimo. Pilot Bob Johanson yang terbang dan mendrop dari pesawat di daerah Piliyam sehinga ia menyarankan kepada team agar supaya mereka maju terus ke bagian Timur melewati gunung ke lembah Yahuli.
Pada bulan Mei 1961 rombongan berpindah dari Piliyam ke Angguruk. Dalam empat bulan kemudian lapangan terbang di Anggruk di buka, dan sesudah itu kepala MAF datang berjalan kaki dari Wamena ke Angguruk dalam rangka memeriksa keadaan lapangan terbang tersebut. Kutipan tulisan asli dari bapak (Pdt.Dr. S. Zöellner dengan judul Pekabaran Injil dan dampaknya di kalangan Suku-suku di Dani Baliem, Yali dan Mek).
Manusia didalam perut bumi
Orang yali sangat disegani oleh saudara mereka yang berada di wilayah barat dari Yali, kadang ditakuti karena dianggap sebagai kanibal-kanibal, hal disebabkan karena ada perbedaan yang timbul akibar dari asal usul perjalanan sejarah mereka, dikaitkan dengan itu daerah yali dianggap sebagai daerah yang sangat berbahaya. Tetapi kehidupan masyarakat di tengah rimba raya itu berada pada suatu titik yang paling tenang. Rambut mereka yang begitu gimbal dan busur dan anak panah selebat alang-alang di rawa. Mereka gagah dan berani, mereka menggunakan menggunakan selubung zakar yang aneh, sehingga dapat terlihat terang dan perkasa. Hal ini dapat di ungkapkan awal oleh Don Richardson melalui buku yang beri judul “Penguasa-penguasa bumi” ia menulis hal berdasarkan kisah nyata yang mendebarkan hati mengenai suku bangsa di pedalaman irian Jaya (Papua) yang masih mewarisi peradaban Zaman batu. Suatu hal yang lucu tetapi juga menarik disini adalah sebelumnya manusia yang lain menganggap bahwa manusia di arah timur (Yali) kini dikenal lagi (Mek) adalah yang suku pemanggang (pemakan manusia). Tetapi kemudian ketika pekabaran injil mulai tersebar, para misionaris saling membagi untuk merintis setiap wilayah dari setiap Zending. Penduduk di dekay danau Ardhbod (nama danau seorang ekspedisi yang meneliti tentang dunia flora dan fauna di Neuguinea) sangat ketakutan karena melihat misionaris sedang membuka : “kaleng yang bergambar apel dia ambil dan makan Apel, kaleng bergambar sapi mereka memakan daging sapi dan mereka melihat ada kaleng bergambar bayi mereka anggap menjadi bukti bahwa misionaris memakan manusia”. (dikutib dari tulisan Pdt. Dr.Myron H. Bromley, Misionaris C.M.A). Manusia yang dalam kehidupannya terlihat masih terikat dengan ikatan kuasa Yali sehingga terlihat seperti suku primat. Hal ini dalam sejarah Yali sering diceriterakan kepada anak secara turun temurun dan tidak tercatat.
Manusia Yali yang gagah itu menganggap bahwa suku yang paling pertama dari jenis manusia yang ada di bumi dan kemudian ia juga menjadi keturunan yang paling terkecil dari setiap turunan yang ada … di bumi jadi manusia Yali merasa ia adalah suku primat sehingga menusia Yali membanggakan diri sebagai perut bumi atau penguasa bumi. Secara geografis wilayah Yali terletak diantara perut bumi Papua sesuai letak peta (lihat Peta).

1 komentar:

  1. masyarakat yalimeck Mimpi adalah sebuah harapan, harapan untuk bisa terus bergerak mewujudkannya yalimeck yang lebih baik kedepan.
    Mimpi adalah sebuah kekuatan, kekuatan tuk terus berupaya menjadikannya nyata.
    Itulah energy dan kekuatan kita masyarakt yali and meck, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehandak orang yalimeck. Karena mimpi membuat hidup yali semakin hidup. wa nowe.......
    by: kabak heriapini
    Efata Tesul Pasikni/ sakukup.....

    BalasHapus